Jumat, 25 Juli 2014
Rabu, 29 Januari 2014
GALERIKU
"GALERI KU"
Disini gue menyimpan semua kenangan gue eech salah maksud ane bukan semua, tapi sebagian kenangan yang mungkin akan berguna kelak dalam lanjut hidup gue nanti.
dari pada gue simpan di Hp kan pasti ilang tuu,, makanya gue simpan dalam blog ini..\\ siapa tau kalau teman2 kangen sama gue ( ke Pd-an (biarin) ) dapt mengunjungi atau maenlah ke blog gue.
Jangan di komenya karena in baru pertama gue buat blog lagi belajar,, tpi dikomen jga nggk nggk apa apa kox,, tpi yang membangun yaa a.. jangan hanya kritik aja saran juga perlu buat gue..
Langsung aja dech nggk banyak basa basi ne GALERI foto gue and teman gue..
![]() |
| Muclass Mild |
![]() |
| waktu pulang dari WM |
![]() |
| sama juga |
![]() |
| ini jg |
![]() |
| Gue |
![]() |
| sama gue juga |
Nah itu tadi foto gue sama teman2 gee.
kalau yang pakai kacamata ini wujud nyata gue..haha kayak apa aja ya pakai wujud segala emangnya jin...haha.
Neh satu lagi foto bareng teman2 komutas gue.. kalau yang diatas ntu teman2 jaman semono..
Udah cukup ini dulu dech..
besok lanjut lagi sobat...
besok lanjut lagi sobat...
Selasa, 28 Januari 2014
METODE TEKNIK TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK
"METODE TEKNIK TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK"
METODE TEKNI
TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK
MAKALAH INI
DISUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH SUPERVISI PENDIDIKAN
DI SUSUN
OLEH:
1.
MUKHLASIN
2.
WENI LESTARI
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI S.1 PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) MA’ARIF
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu sistem,
maka apakah yang dimaksud dengan sistem itu. Secara sederhana dapat dikatakan
bahwa system pendidikan adalah suatu keseluruhan yang terbentuk dari
bagian-bagian yang mmepunyai hubungan fungsional dalam mengubah masukan menjadi
hasil yang diharapkan. Sedangkan pendekatan system adalah cara-cara berpikir
dan bekerja yang menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relevan dalam memecahkan
masalah. Sistem pandidikan nasional adalah satu keseluuhan komponen pendidikan
yang saling terkait secara terpdu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Dalam menjago mutu proses pengawasan pendidikan, diperlukan adanya kontrol mutu
(quality control) yang mengawasi jalannya proses dan segala komponen
pendukungnya.
Supervisi sistem pendidikan menjadi
bagian tersendiri dalam meningkatkan kualitaas pelayanan pendidikan di sekolah.
Supervisi sistem sebenarnya merupakan tindak lanjut dari supervisi kebijakan.
Supervisi memiliki kedudukan sentral dalam upaya pembinaan dan pengembangan
kegiatan kerja sama dalam suatu organisasi, dewasa ini teleh dipelajari secara
ilmiah. Lembaga pendidikan sebagai salah satu bentuk organisasi tentunya tidak
dapat melepaskan diri dari kegiatan supervisi. Dilingkungan lembaga pendidikan
tersebut terlibat sejumlah manusia yang harus bekerja sama dalam mecapai suatu
tujuan. Usaha penilaian, pembinaan, pengembangan dan pengendalian lembaga
pendidikan tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari masalah metode dan
alat serta masalah manusianya sendiri yang harus mampu mewujudkan kerja secara
efektif. Oleh karena itu, dalam usaha penilaian, pembinaan, pengembangan dan
pengendalian lembaga pendidikan tersebut sangat diperlukan penderapan supervisi
pendidikan.
BAB II
METODE TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI
AKADEMIK
A.
Pengertian
Supervisi
Pengertian supervisi secara
etimologis menurut Ametembun 91993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk
perkataan, supervisi terdiri dari dua buah kata super+vision: Super=atas,
lebih, Vision=lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian
tersebut, bahwa supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari yang
disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Secara umum, istilah supervisi berarti mengamati, mengawasi atau membimbing dan
menstimulir kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang lain dengan maksud
untuk mengadakan perbaikan. Konsep supervisi didasarkan atas keyakinan bahwa
perbaikan merupakan suatu usaha yang kooperatif dari semua orang yang
berpartisipasi dan supervisor sebagai pemimpin, yang juga bertindak sebagai
stimulator, pembimbing, dan konsultan bagi para bawahannya dalam rangka upaya
perbaikan.Supervisi yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu
memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah.
B. Supervisi Akademik
Supervisi akademik ditujukan untuk
membantu guru meningkatkan pembelajaran, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan
belajar siswa. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dan direalisasikan oleh
supervisor dalam melaksanakan supervisi akademik, yaitu :
1
Supervisi akademik harus mampu menciptakan hubungan
kemanusiaan yang harmonis. Hubungan kemanusiaan yang harus diciptakan harus
bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal.
2
Supervisi akademik harus dilakukan secara
berkesinambungan.
Supervisi akademik bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu
jika ada kesempatan.
3
Supervisi akademik harus demokratis. Supervisor tidak
boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademiknya. Supervisor harus
melibatkan secara aktif guru yang dibinanya dan tanggung jawab perbaikan
program akademik bukan hanya pada supervisor melainkan juga pada guru.
4
Program
supervisi akademik harus integral dengan program pendidikan.
Di dalam setiap organisasi pendidikan terdapat bermacam-macam sistem perilaku
dengan tujuan sama yaitu tujuan pendidikan. Dalam upaya perwujudan prinsip ini,
diperlukan hubungan yang baik dan harmonis antara supervisor dengan semua pihak
pelaksana program pendidikan.
5
Supervisi akademik harus komprehensif. Program
supervisi akademik harus mencakup keseluruhan aspek pengembangan akademik.
6
Supervisi akademik harys konstruktif. Supervisi akademik
bukanlah untuk mencari kesalahan-kesalahan guru. Supervisi akademik akan
mengembangkan pertumbuhan dan kreativitas guru dalam memahami dan memecahkan
problem-problem akademik yang dihadapi.
7
Supervisi akademik harus obyektif. Obyektivitas dalam
penyusunan program berarti bahwa program supervisi akademik itu harus disusun
berdasarkan kebutuhan nyata pengembangan profesional guru.
C. Teknik
Supervisi Individual
Teknik
supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru
tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor atau
pengawas hany berhadapan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan
tertentu.[1]Teknik-teknik
supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan
kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan
menilai diri sendiri.
a)
Kunjungan Kelas
Kunjungan kelas adalah teknik
pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan Pembina lainnya dalam rangka
mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga memperoleh data yang
diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan kelas ini adalah untuk
menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah guru di dalam kelas.[2] Melalui
kunjungan kelas, pengawas akan membantu permasalahan yang dialaminya.kunjungan
kelas dapat dilakukan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu, dan biasa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.
Dalam melaksanakan kunjungan kelas, terdapat empat
tahap, yaitu:
a.
Tahap persiapan, Pada tahap ini, pengawas merencanakan
waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.
b.
Tahap pengamatan, yaitu mengamati jalannya proses
pembelajaran berlangsung.
c.
Tahap akhir kunjungan, pada tahap akhir ini pengawas
bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi,
setelah itu dilakukan tindak lanjut.
Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik, yaitu:
1)
Memiliki tujuan-tujuan tertentu.
2)
Mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki
kemampuan guru.
3)
Menggunakan instrument observasi tertentu untuk
mendapatkan daya yang obyektif.
4)
Terjadi interaksi antara Pembina dan yang dibina
sehingga menimbulkan sikap saling pengertian.
5)
Pelaksanaan
kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar.
b)
Observasi Kelas
Observasi kelas secara sederhana
dapat diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang
tampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor
terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk
memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar
mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki
proses belajar mengajar.[4]Secara
umum yang diamati selama proses pembelajaran adalah:
a.
Usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses
pembelajaran.
b.
Cara penggunaan media pengajaran.
c.
Reaksi mental para siswa dalam proses belajar
mengajar.
Dalam pelaksanaan observasi kelas dilakukan beberapa tahap, yaitu:
a.
Persiapan observasi kelas.
b.
Pelaksanaan observasi kelas.
c.
Penutupan pelaksanaan observasi kelas.
d.
Penilaian hasil observasi.
e.
Tindak lanjut.
Ketika supervisor/pengawas
melaksanakan observasi kelas, sebaiknya menggunakan instrument observasi
tertentu, antara lain evaluative check-list, activity check-list.
c)
Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu
pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara Pembina atau supervisor
guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan professional
guru. Tujuannya adalah: (1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru
melalui pemecahan masalah yang dihadapi; (2) mengembangkan hal mengajar yang
lebih baik; (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri sendiri;
dan (4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan.[6]
d)
Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antarkelas dapat juga
digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Kegiatan ini dilakukan
guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu
sendiri. Melalui kunjungan antarkelas ini diharapkan guru akan memperoleh
pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran,
pengelolaan kelas, dan sebagainya. Agar kunjungan antarkelas ini dapat berhasil
dengan baik dan bermanfaat, maka harus ada beberapa hal yang diperhatikan
antara lain:
a. Guru-guru
yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaik-baiknya. Diupayakan agar
mencari guru yang berpengalaman sehingga mampu memberikan pengalaman baru bagi
guru-guru yang akan mengunjungi.
b. Tentukan
guru-guru yang akan mengunjungi.
c. Sediakan segala fasilitas yang diperlukan
dalam kunjungan kelas.
d. Supervisor/pengawas
hendaknya mengikuti acara ini denbgan cermat. Amatilah apa-apa yang ditampilakn
secara cermat, dan mencatatnya pada format-format tertentu.
e. Adakan tindak
lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Missal, dengan percakapan pribadi,
penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
f. Segera
aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, yaitu dengan
menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
5.
Menilai diri Sendiri
Menilai diri sendiri merupakan satu
teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri memberikan
informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan
memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metode pengajarannya dalam
mempengaruhi murid. Dengan demikian guru akan terdorong untuk mengembangkan
diri secara professional.
Ada beberapa cara/alat untuk menilai
diri sendiri yaitu:
a) Buat suatu
pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai
pekerjaan atau suatu aktivitas (buat dalam bentuk pertanyaan bias pertanyaan
tertutup atau terbuka dan tidak perlu menyebut nama).
b) Menganalisis
tes-tes terhadap unit kerja.
c) Mencatat
murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara perorangan maupun
secara kelompok.[8]
D. Teknik
Supervisi Kelompok
Teknik
supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang
ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan
analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan
yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian
pada kelompok ini diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau
kebutuhan yang dihadapi.
Teknik
supervisi kelompok ada beberapa diantaranya adalah:
a.
Kepanitiaan-kepanitiaan.
b.
Kerja kelompok.
c.
Laboratorium kurikulum.
d.
Baca terpimpin.
e.
Demonstrasi pembelajaran.
f.
Darmawisata.
g.
Kuliah/studi.
h.
Diskusi panel.
i.
Perpustakaan jabatan.
j.
Organisasi professional.
k.
Buletin supervisi.
l.
Pertemuan guru.
E.
Langkah-langkah pembinaan kemampuan Guru
Ada beberapa
langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan
hubungan-hubungan yang harmonis; (2) analisis kebutuhan; (3) mengembangkan
strategi dan media; (4) menilai, dan (5) revisi.
1.
Menciptakan Hubungan yang Harmonis
Langkah pertama dalam pembinaan
keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara
pengawas dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan
keterampilan pembelajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik
diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa adanya kejelasan,
maka guru akan bingung, tidak tahu apa yang diharapkan oleh kepala sekolah, dan
meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah
awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik. Hal
ini dilakukan untuk mengidentifikasi guru yang baik dan kurang terampil dala
mengajar.
Untuk mewujudkan penciptaan hubungan
yang harmonis diperlukan komunikasi yang efektif. Dalam komunikasi yang efektif
memiliki sejumlah prinsip yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, yaitu:
a.
Berbicara sebijaksana dan sebaik mungkin.
b.
Ikutilah pembicaraan orang lain secara seksama.
c.
Ciptakan hubungan interpersonal antar personil.
d.
Berpikirlah sebelum berbicara.
e.
Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah.
f.
Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain.
g.
Konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu
sendiri.
h.
Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu.
i.
Persingkat pembicaraan.
j.
Ciptakan ketindaksanggupan.
k.
Bersemangatlah.
l.
Raihlah sikap orang lain untuk membantu program.
m.
Berkomunikasilah dengan “eye communication”.
n.
Selalu mencoba.
o.
Jadilah pendengar yang baik.
2.
Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan sebagai langkah
kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru. Secara hakiki, analisis
kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan secara nyata dimiliki. Dalam
rangka memenuhi prinsip ini diperlukan analisis kebutuhan tentang keterampilan
pengajaran guru yang harus dikembangkan melalui supervisi pengajaran. Untuk
melaksanakan kegiatan ini menggunakan langkah-langkah menganalisis kebutuhan
sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau
masalah-masalah pendidikan-perbedaan (gap) apa saja yang ada antara
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang
seharusnya dimiliki guru? Perbedaan di kelompok, disintesiskan dan
diklarifikasi.
b.
Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya.
c.
Menetapkan tujuan umum jangka panjang.
d.
Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan
fase ini, seperti keuangan, sumber-sumber, perlengkapan dan media.
e.
Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan
informasi tambahan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki
guru. Pergunakanlah teknik-teknik tertentu, seperti; mengundang konsultan dari
luar sekolah, wawancara, dan kuesioner.
f.
Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan
khusu pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Pergunakanlah kata-kata perilau
atau performasi.
g.
Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan
pembelajaran guru yang bias dibina melalui teknik dan media selain pendidikan.
h.
Mencatat dan member kode kebutuhan-kebutuhan
pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya.[11]
i.
3.
Media, Sarana, dan Sumber
Dalam setiap pembinaan keterampilan
pembelajaran guru dengan menggunakan teknik supervisi akademik tertentu
diperlukan media, sarana, maupun sumber-sumber tertentu. Apabila digunakan
teknik buletin supervisi dalam membina keterampilan pembelajaran guru, maka
diperlukan buletin sebagai media atau sumbernya. Apabila digunakan teknik
darmawisata dan membina guru maka diperlukan tempat tertentu sebagai sumber
belajarnya.
Apabila digunakan perpustakaan
jabatan sebagai pusat pembinaan keterampilan pembelajaran guru maka diperlukan
buku-buku, ruang khusus, dan sarana khusus, sebagai sarana dan sumber belajar.
Demikianlah seterusnya untuk teknik-teknik supervisi akademik lainnya, semuanya
memerlukan media, sarana, dan sumber sebagai penunjang pelaksanaannya.
4.
Penilaian Keberhasilan Supervisi Akademik
Penilaian merupakan proses
sistematik untuk menentukan tingkat
keberhasilan yang dicapai. Dalam konteks supervisi akademik, penilaian
merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai
dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Tujuan penilaian pembinaan
keterampilan pembelajaran adalah untuk:
1) Menentukan
apakahpengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan
dalam tujuan pembinaan, dan
2) untuk
menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka
perbaikan proses pembinaan berikutnya.
a.
Prinsip dasar dalam merancang dan melaksanakan program
penilaian adalah bahwa penilaian harus mengukur performansi atau perilaku yang
dispesifikasi pada tujuan supervisi akademik guru. Langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut:
1)
Katakan dengan jelas teknik-teknik penilaian.
2)
Tulislah masing-masing tujuan.
3)
Pilihlah atau kembangkan instrumen-instrumen
pengukuran yang
secara efektif bisa menilai hasil yang telah dispesifikasi.
4)
Uji lapangan untuk mengetahui validitasnya.
5)
Organisasikan, analisis, dan rangkumlah hasilnya.
5.
Perbaikan/revisi Program Supervisi Akademik
Sebagai langkah terakhir dalam
pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah merevisi program pembinaan.
Revisi ini dilakukan seperlunya, sesuai dengan hasil penilaian yang telah
dilakukan. Langkah-langkahnya sebagai berikut
a.
Me-review rangkuman hasil penilaian.
b.
Apabila ternyata tujuan pembinaan keterampilan
pengajaran guru tidak dicapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang
terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan
pembinaan.
c.
Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapaim maka
mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya.
BAB III
KESIMPULAN
Satu hal
yang perlu ditekankan di sini bahwa tidak ada satupun di antara teknik-teknik
supervisi kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua
pembinaan dan guru di sekolah. Artinya, akan ditemui oleh kepala sekolah adanya
satu teknik tertentu yang cocok diterapkan untuk membina seorang guru tetapi
tidak cocok diterapkan pada guru lain. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah
harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina
keterampilan pembelajaran seorang guru.
Menetapkan
teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah. Seorang kepala
sekolah, selain harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan
dibina, juga harus mengetahui karakteristik setiap teknik di atas dan sifat
atau kepribadian guru, sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan
guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik. Sehubungan dengan
kepribadian guru, Lucio dan McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah
mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru, minat
guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatic guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Guntur
Triwitono, (2010), Mata Kuliah Supervisi dan Evaluasi Pendidikan: Metode dan
Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: UIN Hidayatullah.
http://gentur1971.blogspot.com/2011/01/metode-dan-teknik-supervisi-akademik.html, diakses tanggal 25 Mei 2011.
http://jeperis.wordpress.com/2010/04/21/metode-dan-teknik-supervisi-pendidikan/, diakses tanggal 25 Mei 2011.
http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/teknik-supervisi-pendidikan.html, diakses tanggal 25 ei 2011.
M. Asrori
Ardiansyah, (2009), Teknik Supervisi Pendidikan, Malang: UIN Malang.
Made Pidarta, (2002), Pemikiran Tentang Supervisi pendidikan,
Jakarta: Bumi Aksara.
Ngalim Purwanto, (2003), Administrasi dan Supervisi Pendidikan,
Bandung: Rosdakarya.
[3]Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan,
(Bandung: Rosdakarya, 2003), hal. 217.
[5]http://jeperis.wordpress.com/2010/04/21/metode-dan-teknik-supervisi-pendidikan/, diakses tanggal 25 Mei 2011.
[6]]http://gentur1971.blogspot.com/2011/01/metode-dan-teknik-supervisi-akademik.html, diakses tanggal 25 Mei 2011.
[7]Ibid.
[8]ibid.
[9]http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/teknik-supervisi-pendidikan.html, diakses tanggal 25
ei 2011.
[10][10]Ibid.
[11]M.
Asrori Ardiansyah, Teknik Supervisi Pendidikan, (Malang: UIN Malang,
2009), hal. 21.
[12]]Guntur
Triwitono, Mata Kuliah Supervisi dan Evaluasi Pendidikan: Metode dan Teknik
Supervisi Pendidikan, (Jakarta: UIN Hidayatullah, 2010), hal. 5.
Supervisi akademik bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu jika ada kesempatan.
Di dalam setiap organisasi pendidikan terdapat bermacam-macam sistem perilaku dengan tujuan sama yaitu tujuan pendidikan. Dalam upaya perwujudan prinsip ini, diperlukan hubungan yang baik dan harmonis antara supervisor dengan semua pihak pelaksana program pendidikan.
keberhasilan yang dicapai. Dalam konteks supervisi akademik, penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Tujuan penilaian pembinaan keterampilan pembelajaran adalah untuk:
secara efektif bisa menilai hasil yang telah dispesifikasi.
[3]Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan,
(Bandung: Rosdakarya, 2003), hal. 217.
[5]http://jeperis.wordpress.com/2010/04/21/metode-dan-teknik-supervisi-pendidikan/, diakses tanggal 25 Mei 2011.
[6]]http://gentur1971.blogspot.com/2011/01/metode-dan-teknik-supervisi-akademik.html, diakses tanggal 25 Mei 2011.
[7]Ibid.
[8]ibid.
[9]http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/teknik-supervisi-pendidikan.html, diakses tanggal 25
ei 2011.
[10][10]Ibid.
[11]M.
Asrori Ardiansyah, Teknik Supervisi Pendidikan, (Malang: UIN Malang,
2009), hal. 21.
[12]]Guntur
Triwitono, Mata Kuliah Supervisi dan Evaluasi Pendidikan: Metode dan Teknik
Supervisi Pendidikan, (Jakarta: UIN Hidayatullah, 2010), hal. 5.
Langganan:
Komentar (Atom)










