Rabu, 29 Januari 2014

GALERIKU

"GALERI KU"

Disini gue menyimpan semua kenangan gue eech salah maksud ane bukan semua, tapi sebagian kenangan yang mungkin akan berguna kelak dalam lanjut hidup gue nanti.
dari pada gue simpan di Hp kan pasti ilang tuu,, makanya gue simpan dalam blog ini..\\ siapa tau kalau teman2 kangen sama gue ( ke Pd-an (biarin) ) dapt mengunjungi atau maenlah ke blog gue.
Jangan di komenya karena in baru pertama gue buat blog lagi belajar,, tpi dikomen jga nggk nggk apa apa kox,, tpi yang membangun yaa a.. jangan hanya kritik aja saran juga perlu buat gue..
Langsung aja dech nggk banyak basa basi ne GALERI foto gue and teman gue..


Muclass Mild

waktu pulang dari WM

sama juga

ini jg


Gue
sama gue juga
Nah itu tadi foto gue sama teman2 gee.
kalau yang pakai kacamata ini  wujud nyata gue..haha kayak apa aja ya pakai wujud segala emangnya jin...haha.

Neh satu lagi foto bareng teman2 komutas gue.. kalau yang diatas ntu teman2 jaman semono..









Udah cukup ini dulu dech..
besok lanjut lagi sobat...

Selasa, 28 Januari 2014

METODE TEKNIK TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK

"METODE TEKNIK TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK"

 

METODE TEKNI TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK
MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH SUPERVISI PENDIDIKAN

DI SUSUN OLEH:
1.         MUKHLASIN
2.     WENI LESTARI
JURUSAN  TARBIYAH
PROGRAM STUDI S.1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) MA’ARIF
 2012/2013






BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu sistem, maka apakah yang dimaksud dengan sistem itu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa system pendidikan adalah suatu keseluruhan yang terbentuk dari bagian-bagian yang mmepunyai hubungan fungsional dalam mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan. Sedangkan pendekatan system adalah cara-cara berpikir dan bekerja yang menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relevan dalam memecahkan masalah. Sistem pandidikan nasional adalah satu keseluuhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpdu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam menjago mutu proses pengawasan pendidikan, diperlukan adanya kontrol mutu (quality control) yang mengawasi jalannya proses dan segala komponen pendukungnya.
Supervisi sistem pendidikan menjadi bagian tersendiri dalam meningkatkan kualitaas pelayanan pendidikan di sekolah. Supervisi sistem sebenarnya merupakan tindak lanjut dari supervisi kebijakan. Supervisi memiliki kedudukan sentral dalam upaya pembinaan dan pengembangan kegiatan kerja sama dalam suatu organisasi, dewasa ini teleh dipelajari secara ilmiah. Lembaga pendidikan sebagai salah satu bentuk organisasi tentunya tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan supervisi. Dilingkungan lembaga pendidikan tersebut terlibat sejumlah manusia yang harus bekerja sama dalam mecapai suatu tujuan. Usaha penilaian, pembinaan, pengembangan dan pengendalian lembaga pendidikan tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari masalah metode dan alat serta masalah manusianya sendiri yang harus mampu mewujudkan kerja secara efektif. Oleh karena itu, dalam usaha penilaian, pembinaan, pengembangan dan pengendalian lembaga pendidikan tersebut sangat diperlukan penderapan supervisi pendidikan.



BAB II
METODE TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK


A.    Pengertian Supervisi
Pengertian supervisi secara etimologis menurut Ametembun 91993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataan, supervisi terdiri dari dua buah kata super+vision: Super=atas, lebih, Vision=lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi. Secara umum, istilah supervisi berarti mengamati, mengawasi atau membimbing dan menstimulir kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang lain dengan maksud untuk mengadakan perbaikan. Konsep supervisi didasarkan atas keyakinan bahwa perbaikan merupakan suatu usaha yang kooperatif dari semua orang yang berpartisipasi dan supervisor sebagai pemimpin, yang juga bertindak sebagai stimulator, pembimbing, dan konsultan bagi para bawahannya dalam rangka upaya perbaikan.Supervisi yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah.
B.    Supervisi Akademik
Supervisi akademik ditujukan untuk membantu guru meningkatkan pembelajaran, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan belajar siswa. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dan direalisasikan oleh supervisor dalam melaksanakan supervisi akademik, yaitu :
1       Supervisi akademik harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis. Hubungan kemanusiaan yang harus diciptakan harus bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal.
2       Supervisi akademik harus dilakukan secara berkesinambungan.
Supervisi akademik bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu jika ada kesempatan.
3       Supervisi akademik harus demokratis. Supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademiknya. Supervisor harus melibatkan secara aktif guru yang dibinanya dan tanggung jawab perbaikan program akademik bukan hanya pada supervisor melainkan juga pada guru.
4        Program supervisi akademik harus integral dengan program pendidikan.
Di dalam setiap organisasi pendidikan terdapat bermacam-macam sistem perilaku dengan tujuan sama yaitu tujuan pendidikan. Dalam upaya perwujudan prinsip ini, diperlukan hubungan yang baik dan harmonis antara supervisor dengan semua pihak pelaksana program pendidikan.
5       Supervisi akademik harus komprehensif. Program supervisi akademik harus mencakup keseluruhan aspek pengembangan akademik.
6       Supervisi akademik harys konstruktif. Supervisi akademik bukanlah untuk mencari kesalahan-kesalahan guru. Supervisi akademik akan mengembangkan pertumbuhan dan kreativitas guru dalam memahami dan memecahkan problem-problem akademik yang dihadapi.
7       Supervisi akademik harus obyektif. Obyektivitas dalam penyusunan program berarti bahwa program supervisi akademik itu harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata pengembangan profesional guru.

C.    Teknik Supervisi Individual
Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor atau pengawas hany berhadapan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu.[1]Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri.
a)     Kunjungan Kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan Pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan kelas ini adalah untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah guru di dalam kelas.[2] Melalui kunjungan kelas, pengawas akan membantu permasalahan yang dialaminya.kunjungan kelas dapat dilakukan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan biasa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.
Dalam melaksanakan kunjungan kelas, terdapat empat tahap, yaitu:
a.      Tahap persiapan, Pada tahap ini, pengawas merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.
b.     Tahap pengamatan, yaitu mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.
c.      Tahap akhir kunjungan, pada tahap akhir ini pengawas bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, setelah itu dilakukan tindak lanjut.
Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik, yaitu:
1)     Memiliki tujuan-tujuan tertentu.
2)     Mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru.
3)     Menggunakan instrument observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif.
4)     Terjadi interaksi antara Pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian.
5)      Pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar.
6)     Pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.[3]
b)     Observasi Kelas
Observasi kelas secara sederhana dapat diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang tampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar.[4]Secara umum yang diamati selama proses pembelajaran adalah:
a.      Usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran.
b.     Cara penggunaan media pengajaran.
c.      Reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.
d.     Keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.[5]
Dalam pelaksanaan observasi kelas dilakukan beberapa tahap, yaitu:
a.      Persiapan observasi kelas.
b.     Pelaksanaan observasi kelas.
c.      Penutupan pelaksanaan observasi kelas.
d.     Penilaian hasil observasi.
e.      Tindak lanjut.
Ketika supervisor/pengawas melaksanakan observasi kelas, sebaiknya menggunakan instrument observasi tertentu, antara lain evaluative check-list, activity check-list.

c)     Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara Pembina atau supervisor guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan professional guru. Tujuannya adalah: (1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan masalah yang dihadapi; (2) mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri sendiri; dan (4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan.[6]
d)     Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Kegiatan ini dilakukan guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Melalui kunjungan antarkelas ini diharapkan guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan kelas, dan sebagainya. Agar kunjungan antarkelas ini dapat berhasil dengan baik dan bermanfaat, maka harus ada beberapa hal yang diperhatikan antara lain:
a.      Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaik-baiknya. Diupayakan agar mencari guru yang berpengalaman sehingga mampu memberikan pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.
b.     Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.
c.       Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas.
d.     Supervisor/pengawas hendaknya mengikuti acara ini denbgan cermat. Amatilah apa-apa yang ditampilakn secara cermat, dan mencatatnya pada format-format tertentu.
e.      Adakan tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Missal, dengan percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
f.      Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, yaitu dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
g.     Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.[7]

5.     Menilai diri Sendiri
Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metode pengajarannya dalam mempengaruhi murid. Dengan demikian guru akan terdorong untuk mengembangkan diri secara professional.
Ada beberapa cara/alat untuk menilai diri sendiri yaitu:
a)     Buat suatu pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas (buat dalam bentuk pertanyaan bias pertanyaan tertutup atau terbuka dan tidak perlu menyebut nama).
b)     Menganalisis tes-tes terhadap unit kerja.
c)     Mencatat murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.[8]

D.    Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian pada kelompok ini diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang dihadapi.
Teknik supervisi kelompok ada beberapa diantaranya adalah:
a.      Kepanitiaan-kepanitiaan.
b.     Kerja kelompok.
c.      Laboratorium kurikulum.
d.     Baca terpimpin.
e.      Demonstrasi pembelajaran.
f.      Darmawisata.
g.     Kuliah/studi.
h.     Diskusi panel.
i.       Perpustakaan jabatan.
j.       Organisasi professional.
k.     Buletin supervisi.
l.       Pertemuan guru.
m.   Lokakarya atau konferensi kelompok.[9]
E.    Langkah-langkah pembinaan kemampuan Guru
Ada beberapa langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis; (2) analisis kebutuhan; (3) mengembangkan strategi dan media; (4) menilai, dan (5) revisi.
1.          Menciptakan Hubungan yang Harmonis
Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara pengawas dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa adanya kejelasan, maka guru akan bingung, tidak tahu apa yang diharapkan oleh kepala sekolah, dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi guru yang baik dan kurang terampil dala mengajar.
Untuk mewujudkan penciptaan hubungan yang harmonis diperlukan komunikasi yang efektif. Dalam komunikasi yang efektif memiliki sejumlah prinsip yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, yaitu:
a.      Berbicara sebijaksana dan sebaik mungkin.
b.     Ikutilah pembicaraan orang lain secara seksama.
c.      Ciptakan hubungan interpersonal antar personil.
d.     Berpikirlah sebelum berbicara.
e.      Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah.
f.      Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain.
g.     Konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu sendiri.
h.     Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu.
i.       Persingkat pembicaraan.
j.       Ciptakan ketindaksanggupan.
k.     Bersemangatlah.
l.       Raihlah sikap orang lain untuk membantu program.
m.   Berkomunikasilah dengan “eye communication”.
n.     Selalu mencoba.
o.     Jadilah pendengar yang baik.
p.     Ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi.[10]

2.          Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan sebagai langkah kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru. Secara hakiki, analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan secara nyata dimiliki. Dalam rangka memenuhi prinsip ini diperlukan analisis kebutuhan tentang keterampilan pengajaran guru yang harus dikembangkan melalui supervisi pengajaran. Untuk melaksanakan kegiatan ini menggunakan langkah-langkah menganalisis kebutuhan sebagai berikut:
a.      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pendidikan-perbedaan (gap) apa saja yang ada antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru? Perbedaan di kelompok, disintesiskan dan diklarifikasi.
b.     Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya.
c.      Menetapkan tujuan umum jangka panjang.
d.     Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan fase ini, seperti keuangan, sumber-sumber, perlengkapan dan media.
e.      Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki guru. Pergunakanlah teknik-teknik tertentu, seperti; mengundang konsultan dari luar sekolah, wawancara, dan kuesioner.
f.      Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan khusu pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Pergunakanlah kata-kata perilau atau performasi.
g.     Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang bias dibina melalui teknik dan media selain pendidikan.
h.     Mencatat dan member kode kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya.[11]
i.        
3.          Media, Sarana, dan Sumber
Dalam setiap pembinaan keterampilan pembelajaran guru dengan menggunakan teknik supervisi akademik tertentu diperlukan media, sarana, maupun sumber-sumber tertentu. Apabila digunakan teknik buletin supervisi dalam membina keterampilan pembelajaran guru, maka diperlukan buletin sebagai media atau sumbernya. Apabila digunakan teknik darmawisata dan membina guru maka diperlukan tempat tertentu sebagai sumber belajarnya.
Apabila digunakan perpustakaan jabatan sebagai pusat pembinaan keterampilan pembelajaran guru maka diperlukan buku-buku, ruang khusus, dan sarana khusus, sebagai sarana dan sumber belajar. Demikianlah seterusnya untuk teknik-teknik supervisi akademik lainnya, semuanya memerlukan media, sarana, dan sumber sebagai penunjang pelaksanaannya.
4.          Penilaian Keberhasilan Supervisi Akademik
Penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat
keberhasilan yang dicapai. Dalam konteks supervisi akademik, penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Tujuan penilaian pembinaan keterampilan pembelajaran adalah untuk:
1)     Menentukan apakahpengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pembinaan, dan
2)     untuk menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka perbaikan proses pembinaan berikutnya.
a.      Prinsip dasar dalam merancang dan melaksanakan program penilaian adalah bahwa penilaian harus mengukur performansi atau perilaku yang dispesifikasi pada tujuan supervisi akademik guru. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1)     Katakan dengan jelas teknik-teknik penilaian.
2)     Tulislah masing-masing tujuan.
3)     Pilihlah atau kembangkan instrumen-instrumen pengukuran yang
secara efektif bisa menilai hasil yang telah dispesifikasi.
4)     Uji lapangan untuk mengetahui validitasnya.
5)     Organisasikan, analisis, dan rangkumlah hasilnya.
5.          Perbaikan/revisi Program Supervisi Akademik
Sebagai langkah terakhir dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah merevisi program pembinaan. Revisi ini dilakukan seperlunya, sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. Langkah-langkahnya sebagai berikut
a.      Me-review rangkuman hasil penilaian.
b.     Apabila ternyata tujuan pembinaan keterampilan pengajaran guru tidak dicapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan.
c.      Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapaim maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya.
d.     Mengimplementasikan program pembinaan yang telah dirancang kembali pada masa berikutnya.[12]


BAB III
KESIMPULAN
Satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa tidak ada satupun di antara teknik-teknik supervisi kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua pembinaan dan guru di sekolah. Artinya, akan ditemui oleh kepala sekolah adanya satu teknik tertentu yang cocok diterapkan untuk membina seorang guru tetapi tidak cocok diterapkan pada guru lain. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina keterampilan pembelajaran seorang guru.
Menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah. Seorang kepala sekolah, selain harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina, juga harus mengetahui karakteristik setiap teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru, sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik. Sehubungan dengan kepribadian guru, Lucio dan McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru, minat guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatic guru.














DAFTAR PUSTAKA

Guntur Triwitono, (2010), Mata Kuliah Supervisi dan Evaluasi Pendidikan: Metode dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: UIN Hidayatullah.
M. Asrori Ardiansyah, (2009), Teknik Supervisi Pendidikan, Malang: UIN Malang.
Made Pidarta, (2002), Pemikiran Tentang Supervisi pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Ngalim Purwanto, (2003), Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya.






[1]]Made Pidarta, Pemikiran Tentang Supervisi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hal. 35.
[2] Ibid., hal. 36.
[3]Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 2003), hal. 217.
[4]Ibid., hal. 218.
[7]Ibid.
[8]ibid.
[10][10]Ibid.
[11]M. Asrori Ardiansyah, Teknik Supervisi Pendidikan, (Malang: UIN Malang, 2009), hal. 21.
[12]]Guntur Triwitono, Mata Kuliah Supervisi dan Evaluasi Pendidikan: Metode dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Jakarta: UIN Hidayatullah, 2010), hal. 5.